27 February, 2016

LAGP: Labschool Alumni Gathering Party


Tahun lalu aku ikut dalam kepanitian beberapa acara. Salah satunya adalah LAGP; Labschool Alumni Gathering Party. LAGP ini adalah acara reuni akbar SMA Labschool Unsyiah yang pertama, makanya kami selaku panitia secara *uhuk* asal milih tema “Where everything begins” untuk acara ini. Nama acaranya juga tau-tau aja dari yang awalnya cuma nama untuk sementara, eh akhirnya malah jadi nama tetap untuk dipake kedepannya.

Lah? Aku tahun lalu kan udah jadi alumni, kok malah jadi panitia lagi? Pada umumnya acara reuni akbar sekolah pasti diadain sama pihak sekolah, biasanya OSIS. Tapi berhubung ini adalah pertama kalinya dibuat di sekolah kami, akhirnya kami para alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni Labschool (waktu itu alumninya baru 6 angkatan) mutusin untuk susun kepanitian sendiri dan nanti dari OSIS akan kerja di beberapa hari sebelum dan pada hari H nya saja.
Ini logo acaranya~

Di acara LAGP kemarin, aku dikasih kehormatan buat jadi ketua Tim Kreatif alias Dekorasi. Kebetulan dulu waktu masa masih sekolah aku sering jadi anak dekor, beberapa kali jadi ketua juga. Nah, dalam waktu beberapa hari akhirnya aku hubungi para-para anak dekor yang udah jadi alumni di TIAP angkatan. Jadi kalo di film-film aku ini kayak orang yang ngumpulin bos-bos besar di tiap daerah untuk ngejalanin satu misi besar: Dekorasi.

Akhirnya terkumpullah kami; Aku, Zakia, Fasha, Feby, Sayed dari angkatan kelima; Kak Rita dari angkatan keempat; Bang Husnul, Kak Ririn, Kak Ecy dari angkatan ketiga. Awalnya ada abang dan kakak dari angkatan kedua dan pertama yang kami hubungi, tapi berhubung mereka sibuk dengan jadwalnya sendiri yaa sudahlah biar kami saja. Terus yang angkatan keenam juga masih sibuk dengan bimbel untuk masuk kuliah, jadi mereka belum kami libatkan dulu.

Jadi kami-kami inilah otak yang merubah konsep acara yang awalnya cuma acara ‘makan siang bersama alumni dan keluarga besar labschool’ jadi acara ‘fun run and gala dinner’. Proses kami ngerubahnya itu ga langsung berjalan mulus, para petinggi-petinggi alumni awalnya ga setuju dengan konsep kami ini. Katanya terlalu boros, ga mungkin kita bikin, sekolah ga akan setuju, dana alasan-alasan lainnya.

Aku juga awalnya mau nyerah aja dan ikutin apa maunya mereka aja, apalagi kalo anak dekor yang pergi rapat cuma aku dan teman seangkatan, kami mana berani ngomong aneh-aneh. Nah, mari kita bikin acara biasa-biasa saja di dalam aula, masak daging kambing, makan pake nasi ala kondangan dan duduk dikursi ala kondangan, semua kenyang dan semua senang.

Tapi, pas bicara sama anggota tim kreatif yang lainnya tentang konsep yang biasa saja itu, mereka tetap bersikeras supaya konsep yang kita mau bisa terwujud. Malah mereka udah mutusin ga akan berpartisipasi kalau konsepnya bukan seperti yang kami rencanakan. Ini kalo di film-film persis kayak adegan dimana beberapa bos yang nolak kerja sama karena tawaran kurang menarik. “Tenang aja, biar kami juga bicara sama mereka.” Kata mereka. *tsah... (suara angin berhembus, dedaunan terbawa angin).

Akhirnya kami mutusin semua anak dekor ini bakal hadir di rapat dengan ketua panitia dkk selanjutnya. Kami pun nyiapin senjata untuk menang.

Aku harus bikin rincian konsepnya pake slide dan bikin rincian dana seminim-minimnya supaya disetujui; kami pergi ke sekolah buat ngukur lapangan, ngukur parkiran, foto sana foto sini. Terus bang husnul yang kuliah di arsitek juga sampe bikin foto gambaran acaranya supaya mereka-mereka ini lebih mudah mengerti maksud konsep kami.

Hari rapat pun tiba dan semua anak dekor hadir. Aku mulai presentasi, satu per satu slide gambaran acara yang kami rencanakan dibuka. Kami yang anak dekor udah siap dengan komentar penolakan apapun dan kami bakal mempertahankan sedikit ego kami ini walaupun harus bersimbah darah. Maaf saya lebay.

Dan... Tak ada yang komentar menolak. Mereka terlihat suka dengan konsep kami, ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan, tapi sama sekali bukan komentar yang menolak konsep kami. Dan akhirnya FIX konsep kami diterima.

Beberapa minggu kemudian di bulan puasa kami panas-panasan pergi belanjan keperluan dekor. 2 minggu sebelum hari H akhirnya kami mulai kerja untuk atribut-atribut yang perlu dibuat. Disinilah kami mulai menggaet anak-anak dekor yang masih sekolah untuk ngebantu kami. Hari itu di dalam aula labschool, dipenuhi orang-orang yang nasibnya sama; “dekorasi”.

Dan tak terasa hari Sabtu, tanggal 25 Juli 2015 tiba. Ini adalah hari pertama acara LAGP ini, di hari ini acaranya adalah FUNRUN. Jadi kami para alumni, guru, dan murid semuanya lari pagi keliling kampus-kampus di Universitas Syiah Kuala (kebetulan sekolah kami ada di dalam perkarangan Unsyiah ini). Demi lancarnya acara lari ini aku juga sebelumnya saat nyusun konsep sampe keliling pake motor ngukur jarak lari ini, cuma 2,7 km. Pagi-pagi tadi sebelum acara mulai, kami tim kreatif harus nyiapin garis START, garisnya kami bikin pake kapur warna-warni di atas aspal dan ada baloon arch di atasnya suapaya nandain itu startnya. Dan di hari ini kami semua berlari, awalnya aku kira ga akan terlalu capek karena jaraknya ga terlalu jauh. Eh ternyata sampe ngos-ngosan juga haha. Sementara kami berlari, panitia yang dari OSIS bertugas, ada yang jadi medis, ada yang jadi pengawalan, selain itu kami juga di kawal dengan polisi.

Tak berapa lama akhirnya finish. Nah finishnya ini juga idenya tim kreatif, kami bikin sebuah terowongan dari teratak yang di tutup dengan kain hitam full. Jadi didalam terowongan ini bakal gelap dan sulit untuk melihat apa yang terjadi. Nah, di dalam terowongan ini lah ada panitia yang udah siap untuk melempari kami dengan tepung warna-warni.

Sebenarnya ide bikin terowongan ini muncul gara-gara di Banda Aceh ada larangan bikin acara color run. Nah kami kan cuma FUN RUN bukannya color run, jadi ga masalah. Walaupun pakai tepung warna-warni juga, tapi dilakukan di dalam terowongan untuk ‘kejutan’ saja.

Nah peserta yang udah penuh warna ini kemudian diarahkan untuk ngumpul di area penutupan acara Fun Run ini, yaitu di halaman belakang aula. Tiap peserta juga udah di bagiin bubuk warna dalam plastik. Dan setelah semua peserta tiba di belakang aula barulah kami mulai hujan warnanya.

taken by instagram.com/jstfira

habis kena warna



Ini angkatan 5 yang ikut lari





Tim Kreatif!





Sehabis numpang mandi di sekolah~ biar bersih


masih bersih~ angkatan 5!




Acara pun selesai, ada yang pulang, ada yang ga berhenti-henti foto terus, ada juga yang ngopi. Aku dan yang seangkatan milih ngopi. Kami ngopi dalam kadaan badan masih penuh dengan bubuk warna-warni, malah ada yang sampe jadi kayak warna hitam jorok gitu karena basah dengan keringat. Setelah istirahat itu barulah kami bubar.

Sorenya panitia harus balik lagi ke sekolah. Kami ngeberesin beberapa hal yang udah bisa langsung disiapin di hari itu terus. Terus pulang dan istirahat. Barulah besok paginya kami panitia kembali lagi ke sekolah dan mulai persiapan untuk acara GALA DINNER.

Jadi kami harus ngerluarin semuuuuuaaaaa meja dan kursi dari dalam kelas ke lapangan basket. Meja-meja itu kemudian di susun berkelompok sesuai rencana kami. Kami terus kerja ini itu dari pagi sampe akhirnya jam 3 an yang panitia dekorasi udah bisa bubar dan di serahkan ke panitia acara.

Sehabis Ashar, jam 4 lewat, acara formal pun dimulai.
Sumber: Instagram.com/nora.akhsa
Acara di hari terakhir, Minggu tanggal 26 Juli 2015 ini cuma dihadiri sama alumni dan guru/staff sekolah dan panitia dari OSIS. Acaranya berlangsung mewah dan sesuai harapan kami. Acara dinner ini kami lakuin di lapangan terbuka, di tengah-tengah sekolah. Panggung yang kami siapkan adalah ¼ nya panggung dari aula untuk penampilan akustikan dari tiap angkatan.

Ini mix semua angkatan, mulai dari 1 sampai angkatan 8


Angkatan 5!



Angkatan 5!















Creative Team All Star

Dekorasinya kira-kira begini:

Para tamu datang dari gerbang sekolah lagsung di sambut gapura kaki 4 yang dihias kain hitam dan putih dan lampu putih kecil-kecil; romantis. Masuk dari sana para tamu akan berjalan di tempat yang sehari-harinya adalah parkiran motor, malam itu kami bentang red carpet dan daun-daun kering di tebar secara rapi dipinggirnya. Mulai berjalan di red carpet, para tamu akan menjumpai enam buah bingkai foto yang dibariskan. Foto pertama adalah foto angkatan pertama. Foto keduan adalah foto angkatan kedua, foto yang diambil dengan fish eye dan angle tinggi, para siswa membutuk kata ‘2nd’. Foto ketiga para siswa membentuk ‘3rd’. Foto keempat ‘4th’, kelima ‘5th’, dan terakhir ‘6th’. Sebuah barisan foto yang menandakan bahwa alumni yang akan hadir adalah 6 angkatan ini. Berjalan dari sana akan ada backdrop ‘ala-ala grammy’ yang lebarnya 9 meter, jadi semua bisa puas foto ga harus ngantri dan juga bisa foto serame apapun.









Dari situ mereka kemudian masuk ke halaman sekolah dan melihat lapangan sudah penuh dengan cahaya dari lampu gantung dan juga penuh dengan meja-meja panjang bertaplakkan putih. Di sudut ada panggung akustikan. Para alumni bergantian menampilkan lagu-lagu. Saatnya makan-makan harus dimulai panggung juga istirahat, hanya terdengar suara musik ‘ala-ala restoran hotel’ dan layar proyektor yang terus memutar slide foto-foto jadul tiap angkatan. Setelah makan kemudian dilanjutkan dengan penampilan akustik lainnya.

Jadi beginilah, acara reuni akbar kami berjalan lancar. Aku merasa beruntung bisa terlibat langsung sebagai panitia di dalam acara yang sebesar ini.

Banyak hal bagus dari acara ini. Di acara yang pertama ini kami sudah membuat sebuah ‘standar’ untuk acara-acara selanjutnya. Selain itu aku juga yang awalnya tak pernah bicara dengan para abang-abang alumni kini juga sudah terbiasa. Yah banyaklah hal bagusnya dari acara ini.

Ohya, acara LAGP ini juga membuat banyak perubahan di ikatan alumni kami. Kami mulai membentuk ikatan yang benar-benar ikatan mulai dari sini. Kami juga memilih ketua alumni yang baru dan dilantik dihari kedua LAGP ini juga. Juga banyak hal-hal yang dulu saat alumni masih sangat sedikit kurang perlu di pikirkan, tapi sekarang dan yang akan datang jumlah kami akan terus bertambah, maka ikatan juga harus disesuaikan.

Kebetulan tanggal 27 Juli, yaitu besoknya adalah hari ulang tahun sekolah yang ke 10, jadi saat habis ashar tanggal 26 itu setelah acara obrol-obrol santai, kami juga adain acara tiup lilin dan lepas balon. Tiap-tiap orang megang satu balon putih yang pada hitungan ketiga kami lepas bersamaan, semua terbang tinggi dilangit bersamaan; ’Cet Langet!’.

‘Cet langet’ adalah bahasa aceh, secara kata artinya adalah ‘mengecat langit’ yang maknanya adalah sesuatu yang tak mungkin dilakukan, hanya sebuah mimpi. Kalau kata Mrs. Sullivan, donatur sekolah ini, terjemahannya adalah ‘Dreams dream’, memimpikan mimpi. Kata-kata ini terpampang jelas di aula sekolah kami. Mungkin dengan lepasnya balon-balon itu dari tangan para alumni, menandakan kami sudah mulai mengejar mimpi-mimpi kami, kami mulai mengecat langit, melakukan hal yang dulu saat masih sekolah dirasa tak mungkin.

20 January, 2016

Bakar-bakar tambang!

Saya dimana? Oh yg fotoin.

#latepost

Tanggal 26 Desember terjadi Tsunami.
...
Eh, bukan! aku bukan mau cerita tentang Tsunami.
Ulang balik ya... haha --' *krikkrik *garing *ditendang

Tanggal 26 Desember tahun lalu *biar kesannya udah lama*  untuk pertama kalinya anak-anak jurusanku bikin acara bakar-bakar ayam. Wuuuutttt?? udah semester 3 belon pernah bikin bakar ayammm?? kalian itu herbivora!?

Sebenarnya kami udah pernah bikin sekali waktu berkemah di Lhok Mata Ie, tapi ini pertama kalinya bikin yang ala rumahan jadi beda lah dengan bakar-bakar waktu kemah, getoh.

Sebenarnya kami udah punya rencana untuk bakar-bakar ini dari jaman NOAH masih pake nama Perterpan semester 2. Tapi kebiasaan anak-anak jurusanku, sukanya wacana aja. Rencana bikin jaket jeans, jadi wacana. Rencana sering-sering bikin kegiatan naik gunung (biar lebih kerasa kayak anak tambang yang sering main sama alam *azigidi*), jadi wacana. Semua-semua jadi wacana.

Jadi aku yang udah ngga tahan lagi dengan daerah rawan wacana kayak gini akhirnya mengorbankan diri untuk menggerakkan semua (untuk bakar ayam). Akhirnya aku bikin pengumuman di group line jurusan tentang acara ini. Selain bakar ayam, kita juga sekalian nikmatin hadiah angkatan kita karena juara 2 di acara olahraga jurusan, hadiahnya gak banyak cuma snack-snack ringan dan minuman soda besar alias Big Cola. 
Ternyata banyak yang responnya semangat. Semangat bakar ayamnya itu ada *?*. Satu per satu mulai muncul dan menawarkan diri untuk ngurusin masalah minuman, ada yang mau ngurusin ungkep ayamnya, ada juga yang cuma kasih semangat aja. Ternyata banyak anak-anak lainnya juga yang semangat dengan acara kecil kea gini. *terharu*

Awalnya kita pengen semua bisa ikutan, semua cowok dan semua cewek. Biar kami yang jumlah semuanya ada 50an ini bisa makin kompak, bisa lebih dekat lagi, gak ada gap antara teman yang ini dan yang itu, juga sekalian bicarain apa aja tentang angkatan ini untuk kedepannya.

Tapi apalah daya, banyak anak daerah yang manfaatin hari libur akhir tahun yang lumayan agak panjang itu untuk pulang kampung. Awalnya cuma satu-dua yang bilang gabisa, Eh tau-tau ujung-ujungnya yang ikutan bakar-bakar malah cuma kawan-kawan biasa ngopi juga, kawan-kawan yang kebetulan di semester 3 kamarin ada di kelas yang sama. Gagal tujuan utamanya. Tapi aku juga ngga mau jadinya cuma wacana aja lagi, pengumuman udah disebar dan udah ada juga yang ngumpulin uang, pokoknya udah hampir beres semua. Akhirnya kami tetap menjalankan ritual bakar ayam itu dengan jumlah pasukan sekitar 20 orang dan cowok semua.

Mereka-mereka yang mau ikut bakar ayam ini kumpul duit sekitar 20ribu transfer via atm ke aku atau si Agung.  Gatau agung kea mana kejadiannya, tapi yang pasti kerjaan aku di satu hari itu demi ngumpulin duit yang mau ikutan adalah berkeliaran di warkop-warkop se-Banda Aceh. Banda Aceh ini dijuluki dengan kota 1001 warkop, itu gak salah karena di tiap jalan pasti ada minimal 5 warkop. Mungkin kapan-kapan aku bikin postingan tentang warkop-warkop Banda Aceh yang recommended.
Jadi seharian itu aku pindah sana sini supaya teman-teman bisa ngasi duitnya ke aku gampang. Dari jam 10 pagi sampe jam 6 sore aku berkeliaran, yang kumpul duit cuma 1 orang. Sakit sebenarnya.

Akhirnya besoknya mulai gerak semua. Urusan ayam udah sama si Abay dapat 35.000 per ayam, kita potong 4 biar PUASSS. Nasi bawa masing-masing, minuman udah ada dari hadiah dan juga ada sirup cap patung sisa lebaran di rumah si Ari (rumah tempat kami adain bakar-bakarnya). Kebetulan hari itu entah kenapa hujan pula seharian, tapi untung waktu magrib hujannya udah berhenti jadi kami tetap bisa bakar ayamnya.
Agung-Rijalul-Khana-Firman-Win
Aku lumayan sering bakar ayam sama anak-anak SMAku, tapi di bakar-bakar yg ini ada beberapa hal yang beda dan lumayan bikin aku amaze, terkagum-kagum.
Yang pertama, semuanya ada kerja. Ini kayaknya ga pernah terjadi pas bakar-bakar sama anak SMA. Kalo sama mereka pasti adaaa aja yang telat datang tinggal makan aja lah, atau lebih parah lagi ada yang udah datang dari awal tapi cuma tidur-tiduran sementara yang lain bakar-bakar kadang-kadang sampe diguyur hujan. Tapi ini beda, semuanya kerja, ada yang bikin ramuan kecap pedas, ada yang bikin ramuan olesan ayam bakar, ada yang bikin minuman, ada yang kipas-kipas ayam, ada yang ngurus bakar arang dan batok di lokasi lain, ada yang tugasnya ambil arang atau batok yang udah jadi arang trus taruh di panggangan. Saya terharu.

Lagi nunggu ayamnya
Ngga berapa lama, karena kerja kita beres, akhirnya semua ayam ukuran besar ini siap untuk di makan. Nah, ini lagi yang beda. Entah efek kena doktrin dulu pas diospek atau gimana aku gatau juga, tapi ga ada yang makan duluan, semua nunggu kebersamaan. Lagi-lagi, saya terharu.

Sangking (atau saking?) kebersamaannya, berkat usulan si Abay kami sampe ngumpulan nasi yang kami bawa masing-masing dalam satu wadah besar. Nah dari wadah itulah kami kembali di bagikan secara rata nasi porsi masing-masing. OMG. Saya terharu melihat akal teman-teman semua. Jadi semua bisa dapat nasi kalau ada yang lupa bawa. *atau sebenarnya ini cuma akal-akalan si abay aja biar bisa makan lebih banyak?*
Pembagian nasi
Awalnya gapapa kyk gitu, eh tiba-tiba ada lagi yang punya akal kreatif, si Adrian yang didukung sama semuanya. Jadi banyak dari kami yang nasinya beli di warung, jadi kan ada bungkusannya tuh. Nah, bungkusannya yang udah kosong itu dibuka semua, kami duduk berhapan rapat-rapat, bungkusan tadi diletakkan saling menyambung dihadapan kami. Makan nasi bungkus ala mapala (mahasiswa pecinta alam). Aku yang kebetulan di sampaing si Abay cuma bisa bilang "Liat bay, gara-gara ko jadi banyak yang kreatip kekgini", si Abay cuma bisa ketawa.

Tapi entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba semua ngga jadi makan ala mapala gitu. Semua jadi punya kertas bungkusan nasi masing-masing, tapi tetap porsinya di bagikan dengan rata sama si Ilman sebagai komisaris leting kami.

Sebelum memulai makan, kami berdoa dulu. Lagi-lagi sesuatu yang gak pernah ada di bakar-bakar ayam sama kawan SMAku. Dan doa nya di pimpin oleh... Syauki!?
Syauki adalah anak yang bandel dalam hal agama. Tapi belakangan emang keliatan dia sering shalat sih.
Jadi alasan semua nunjuk dia yang mimpin doa makan adalah... Karena katanya ayahnya imam di kampungnya. Aku baru tau hari itu dan aku terdiam tak menyangka.
Ini lagi doa sebenarnya. Tuh yang pakai topi putih namanya Syauki.
Akhirnya kamipun makan dengan lahap ayam bakar ukuran jumbonya dengan nikmat dan penuh penghayatan. 
ayamnya siappp
Selain ayamnya yang luar biasa nikmat karena diolesi bumbu oleh ala rizkimuft, kami juga minum sirup cap patung yang di racik oleh Fadlan dengan jeruk nipis. Anehnya rasnya jadi kaya air kelapa muda.
PENAMPAKAN!? oh bukan itu aufaz
Makan-makan selesai dan kami beres-beres sedikit lalu bersiap mau ke warkop untuk ngopi. Beberapa ada yang udah gerak pulang duluan. Jam menunjukkan pukul 12an malam. Tiba-tiba... brrrrrrrrrrrrsssssssssssss.... hujan deras lagi, kami ga bisa kemana-mana.

Terpaksa kami nungguin hujan reda dulu di rumahnya Ari sambil nonton TV. Sejaman kemudian hujannya baru reda dan rasanya udah gak selera lagi sama warkop, kami pun memutuskan untuk pulang.

Seharian itu emang lagi hujan, tapi hujannya berhenti abis magrib untuk kami mulai bakar-bakar dan hujan lagi setelah kami selesai beres-beres. Lucky?

Besok lusanya aku bakar-bakar lagi, sama anak SMA. Terus lusanya lagi aku bakar-bakar lagi sama panitia acara Dies Natalis Jurusan. Ujung tahun penuh dengan bakar-bakar.