Skip to main content

7 Manusia Harimau di Sabang


Mau tau kenapa judulnya begitu? Baca sampai habis ya :)


2 bulan yang lalu aku dan teman-teman berliburan ke pulau paling barat di Indonesia, pulau Weh atau yang lebih dikenal dengan nama pulau Sabang (padahal Sabang adalah nama kotanya bukan pulaunya).



Kami berangkat tanggal 4 Agustus 2015, beranggotakan Aku, Agung, TM, Ewe, Bocil, Kepo, dan Ponda. Jumlah kami awalnya bukan 7 orang, tetapi berhubung Jehan tak jadi ikut jadilah kami tinggal bertujuh yang berangkat ke Sabang.

Kami berangkat dengan menggunakan kapal Feri KMP BRR tujuan Balohan, Sabang pukul 11.00 tepat. Alasan kami menggunakan kapal itu adalah selain harganya yang murah juga karena kami membawa sepeda motor.

Ini adalah kali ke-4 aku pergi Sabang. Tapi ini berhubung saat pertama kali sampai ketiga kali itu aku perginya waktu masih bocah SD, aku kurang ingat dengan pulau ini. Jadi mari kita simpulkan saja bahwa ini pertama kalinya aku pergi ke Sabang.

Jadi beginilah ceritanya....


Berawal dari malam-malam Ramadhan yang lalu, kawan-kawan mulai tergerak untuk mengumpulkan uang untuk pergi liburan ke Sabang. Hingga akhirnya pada awal bulan Agustus mulai terlihat siapa yang betulan akan berangkat dan tidak.
Awalnya aku masih ragu akan pergi atau tidak. Masalahku cuma satu dan hal itu lumayan penting, yaitu dana. Aku cuma punya Rp.700.000,- untuk mulai dari beli tiket sampai pulang balik ke Banda Aceh, tidak lebih. Beberapa teman menyakinkanku bahwa itu udah lebih dari cukup, tapi ada juga yang bilang pernah ke sana dan habis sampai 1 juta.

Saat itu yang udah pasti pergi adalah Ewe, Agung, Kepo, Bocil. Sementara Ponda ragu karena ayahnya pergi kondangan ke Jakarta dan ga ada yang mengisi kekosongan rumah, Jehan ragu karena gak ada bos juga di rumah, TM karena masih dalam pendidikan ketat dan ia akan pergi kalau aku juga pergi, dan Aku ragu karena dana kurang aman.

Namun akhirnya aku nekat juga pergi dengan hanya Rp.650.000,-. (Rp. 50.000,- lagi udah habis buat ngopi hehe). TM juga jadi berangkat karena aku jadi berangkat, lalu Ponda juga jadi karena udah gak tahan lagi pengen ke sabang rame-rame. Cuma Jehan yang gak jadi.

***

Satu hal yang sudah diingatkan teman-teman yang sebelumnya pernah pergi, "Kalau mau berangkat datang lebih awal karena kapal bisa penuh dan sepeda motor gak bisa masuk lagi.".

Jadi kapal yang bakal kami naikin adalah kapal jam 11.00 pagi. Malamnya, EW dan TM udah pergi ke pelabuhan untuk cek jadwal kapal dan ternyata udah rame yang ngantri untuk kapal pagi. Jadi malam itu kami langsung ribut di grup untuk bangun lebih pagi dan datang lebih awal supaya kami semua bisa berangkat sama.

Jam 7 kurang kami udah bangun dan saling menyapa di grup Line, cuma Kepo dan Bocil yang belum ada kabarnya. Jam 8 kurang si TM jemput aku di rumah, kami pergi ke Coffee Bay untuk coffee morning dulu sama Agung, Ewe, dan Ponda. Udah sampe di Warkop itu, barulah ada kabar dari Kepo yang telat bangun, Kepo lagi jemput Bocil.
Jam 8.30 pagi kami masih di warkop kemudian datanglah Kepo dan Bocil, kamipun langsung gerak menuju pelabuhan.

Di pelabuhan, sesuatu yang lupa diperkirakan terjadi. Ternyata, hari itu harinya mahasiswa yang KKN ke pulau Weh juga berangkat.
 Jadi hari itu sepeda motor yang ngantri untuk naik lumayan ramai. Dan posisi ngantri kami lumayan agak jauh di belakang, tapi masih ada kemungkinan bisa masuk.
Sepmor udah di parkir di tempat antriannya, kami pun segera beli tiket kapal. Aku lupa harganya, tiket untuk dewasa harganya dua puluh ribuan gitu, trus tiket motor harganya 30an gitu. Pokoknya kami perorang ngumpul duit 45.000 untuk tiket masuk motor dan diri.

Pagi itu kami bangun terlalu pagi, jadi aku belum sempat menyetor ke WC. Alhasil jam 11 kurang perut mulai berontak udah gak kuat dan aku pun terpaksa melepaskan apa yang harus di lepas di kamar mandi pelabuhan.
Kamar mandinya terurus, tapi tetap agak kotor dan ada beberapa toilet yang rusak dan juga wastafelnya sama sekali tak ada guna karena bocor di bawahnya.
Saat sedang melepaskan hal-hal yang harus dilepaskan, tiba-tiba HP bunyi. Ternyata kapal mau nyampe di pelabuhan.

Singkat cerita, saat aku keluar dan menuju tempat kami berkumpul tadi, ternyata tinggal Agung dan Bocil. Semntara Ewe, TM, Ponda, Kepo udah ke tempat sepmor untuk berebut masuk.

Lalu Aku, Agung, dan Bocil yang diboncengi ini langsung jalan kaki masuk ke kapal. Kami naik ke bagian atas kapal yang terbuka karena resiko mabuk laut lebih sedikit. Sementara kami sudah duduk di atas, kami masih kepikiran dengan 4 orang sahabat kami lainnya yang lagi berjuang diantara puluhan penumpang lainnya untuk berebut naik kapal.

Tiba-tiba Ewe menelepon, alhamdulillah dia sempat naik kapal bersama sepmor mio putihnya. Namun sayang, dia bilang yang lainnya gak sempat masuk karena pintu kapal udah ditutup. Ew pun naik ke bagian atas kapal. Saat kapal sedang akan berangkat tiba-tiba TM menelepon, ternyata ia sempat naik kapal namun sepeda motornya udah dititip dengan calo. Tinggallah Kepo dan Ponda yang harus berangkat dengan kapal sore.

TM cerita, ternyata saat dia mau naik kapal pintunya udah ditutup duluan, melihat ada yang naik dengan cara melompat ke jedela kapal, dia pun kemudia mengikutinya sambil sempat tergantung-gantung sebentar di jendelanya sampai kemudian ada yang menolongnya dari dalam. Luarrr biasaaa...

Kami berangkat tepat di pukul 11.00 WIB. Wow.
Di kapal kegiatanku cuma foto-foto sambil jalan-jalan di atas kapal terus balik lagi ke tempat duduk, tiduran di lantai, dengarin si Agung (belajar) main Ukulele dan ulangi lagi.

TM lagi galau di kapal

Mahasiswi Unsyiah yang lagi KKN

Agung bosan main ukulele

Ewe oleng


Abang ini kayaknya mahasiswa KKN juga

Itu aku.

***

Jam 14 lewat kami udah sampai di pelabuhan Balohan Sabang. Setelah sepeda motor Ewe keluar, dan kami juga sudah keluar. Kami ngumpul sebentar di luar pelabuhan dan memutuskan supaya Ewe dan TM pergi duluan ke Iboih untuk cari hotel sementara Aku, Agung dan Bocil menunggu di warkop dekat-dekat situ juga sambil menunggu kapal Ponda Kepo.

Ya, kami belum booking hotel. Bukan karena ga mau booking, tapi hotel-hotel yang kami hubungi semuanya FULL. Jadi harus cari sendiri pas di sini.

Kami bertiga yang tinggal di pelabuhan lalu memilih duduk di Utak Juice, kami mengambil makanan di warung makan sebelahnya dan memesan minum di Utak Juice itu. Makanannya enak, harganya lumayan mahal. Nasi putih biasa pakai ayam goreng harganya 16.000.-
Setelah makan maka dimulailah ritual bosan menunggu kami. Tak ada yang bisa dilakukan selain buka-buka HP, minum teh dingin, merokok (bagi yang melaksanakan), foto-foto, dan duduk diam. Kebetulan aku pakai kartu Tri, biasanya pakai Telkomsel tapi berhubung saat itu harganya lagi naik gila-gilaan jadi aku pakai kartu Tri. Dan ternyata di Sabang, Tri sangatlah lemah. Ini ada beberapa foto yang aku ambil selagi nunggu Ewe dan TM balik ke sini.

Rizkimuft

Shalat Ashar di Mushala Pelabuhan, Mushala yang tepat di samping laut.

Bocil
Bocil fotoin

Bocil fotoin

Agung lagi (sok) baca-baca paduan wisata
Si TM sama Ewe lumayan lama. Bahkan sampe ashar pun mereka belum balik dari Iboih. Sampe akhirnya jam 5 an barulah mereka sampai lagi di tempat kami nunggu tadi.






 Ponda dan Kepo berangkat dari pelabuhan Ulhee Lheue jam 4 dan akhirnya sampai di Balohan setelah Maghrib (jam 19.00 an), akhirnya tim kami pun lengkap dan kami langsung berangkat menuju Iboih.

Tapi berhubung perut lapar, kami memutuskan untuk singgah di Rumah Makan Murah Raya di kota Sabang. Saat mau berangkat dari pelabuhan, ternyata motor TM bocor ban belakang. Kami pun harus singgah dulu di tempat bengkel tempel ban yang ada di dekat pelabuhan.

Kami makan di Rumah Makan Murah Raya pukul 20.30 WIB. Harga makan disitu lumayan mahal untuk kami yang cuma bawa uang dikit. Pake ayam sama kuah harganya sekitar 15ribu rupiah. Kayaknya memang harga makanan di sabang lumayan mahal-mahal karena daerah pariwisata.

Ini di rumah makan murah raya


Setelah makan, kami mampir ke minimarket di sebelahnya untuk membeli peralatan mandi dan snack penghibur perut dikala malam tiba. Agung beli sabun mawar cair, sabun yang akhirnya kami semua pakai untuk mandi.

Tiba-tiba hujan turun. Dan tiba-tiba hujan berhenti.

Kami melanjutkan perjalanan kami ke Iboih, ke tempat penginapan yang sudah di pesan oleh Ewe dan TM tadi siang.
Perjalanan malam ke Iboih ternyata lumayan mengerikan. Kami harus melewati kawasan hutan lindung yang sepi dan kalau malam berkabut. Lumayan horor.
Aku diboncengi Kepo saat perjalanan ini. Tanpa sadar si Kepo jalan terlalu kencang dan tau-tau kami udah ada paling depan dan ninggalin yang lain agak jauh dibelakang. "Po, kayaknya kita kejauhan ninggalin orang ini..." kataku. "Eh, iya ki..." Kami pun melambat di jalanan sepi itu. Sabang itu terkenal dengan cerita-cerita horornya, makanya kami agak goyang sikit.

Akhirnya kami di susul oleh kawan-kawan lain. Si Agung dan Ewe ngebut sambil teriak ke kami "Ko liat belakang! ko liat belakang!". Kami melihat ke belakang dan... sepi. Sepi yang horor. Alhasil kami semua ngebut.

***

Kami tiba di penginapan. Karena dalam 1 kamar tidak boleh lebih dari 4 orang, maka kami pesan 2 kamar. Tapi eh tapiii... ternyata keluarganya pemilik penginapan kami mendadak datang dan terpaksa harus menempati salah satu kamar yang kami pesan. Alhasil kami pun dibolehkan 1 kamar bertujuh.

Ini termasuk berkah. Harga penginapan 150ribu semalam, bisa bayangin berapa murahnya kalo di bagi tujuh? Murah kali.

Tapi awalnya kami agak kecewa dengan penginapan tersebut, karena ekspektasi kami adalah sebuah penginapan indah di pinggir pantai dengan angin laut santai dan semua serba damai. Eh ternyata... Memang dipinggir pantai, tapi suasana yang kami dapat terbilang 'ramai' karena keluarga si pemilik penginapan yang datang tersebut adalah nenek, ibu-ibu, kakak-kakak, abang-abang, paman-paman, ayah-ayah, mamak-mamak, lengkaap semuaa.. Tapi berhubung kami udah capek, yaudahlah biarkan saja.

Setelah ganti baju kami turun ke bawah (kamar kami di lantai 2), kami duduk-duduk ngopi. "Apa tidur cepat-cepat kali, jam 3 nanti kita tidur." Kata salah seorang dari kami.

Beberapa saat kemudian, jam menunjukkan pukul setengah 1 malam. Tau-tau 4 dari kami udah naik ke atas untuk tidur (termasuk aku). Lalu 3 lainnya langsung menyusul. Tidur jam 3 hanyalah wacana.


***

Besok paginya kami bangun jam 10.00, tanpa mandi lagi, hanya gosok gigi dan cuci muka kami langsung jalan kaki ke tempat penyewaan alat snorkeling.

Sebelum meninggalkan penginapan, pandangan kami terhadap parte nenek-nenek tadi berubah. Awalnya kami kira mereka adalah keluarga yang sombong. Eh ternya pagi itu kami di servis dengan air panas untuk masak Pop Mie dan diberi kenang-kenangan berupa kacang-kacangan dan buah-buahan berhubung parte nenek mau balik ke kota meninggalkan kami dalam sukacita.

 Harga sewa boat 200ribu, harga alat snorkeling 40ribuan. Jadi kira-kira kami bertujuh masing-masing keluarin 70ribuan untuk totalnya.

Dari tempat penyewaan alat snorkeling, kami jalan kaki ke pantai di depannya dan kemudian datangnya boat sewaan kami. Kami harus naik boat itu untuk pergi ke pulau Rubiah yang ada di seberang Iboih.

Kami berangkat dari pantai Iboih ke Rubiah
Sampai di Rubiah, kami langsung jalan kaki lagi naik ke atas mengikuti jalan setapak untuk snorkeling di belakang pulau rubiah. Area yang kami pilih untuk snorkeling ini sepi, hanya ada beberapa bule berbikini yang juga snorkelingan di sini. Snorkeling disini lumayan agak berbahaya karena tidak ada jaring pembatas antara pinggiran pulau dan laut lepas. Tapi keindahan bawah laut yang di tawarkan sangatlah beragam. Kebetulan kami ga ada yang punya kamera yang bisa dicelupkan ke dalam air, jadi kami ga ada foto underwater kayak orang-orang.


Ini di restoran di belakang rubiah.







Ini lautnya tempat kami snorkeling di belakang rubiah.



Setelah puas snorkeling di situ, kami lalu istirahat di satu-satunya restoran yang ada disitu. Kami makan mie rebusnya karena lapar.
Beberapa lama kemudian barulah kami kembali ke bagian depan rubiah dan duduk di salah satu warung makan yang menyediakan Sate Gurita. Sebagian dari kami memilih untuk makan dulu baru lanjut snorkeling, sedangkan aku dan sebagian lagi memilih untuk lanjut snorkeliangan lagi.

Di bagian depan rubiah ini kelebihannya adalah terumbu karangnya lebih banyak karena memang di kebang biakkan oleh mereka-mereka yang mengembangkan. Ada beberapa spot yang wajib dilihat dibawah laut rubiah ini. Yang pertama adalah kerangka mobil yang di tenggelamkan untuk menjadi dasar terumbu karang, kamudian sebuah sepeda motor yang juga di tenggelamkan dan seolah-olah nyangkut di terumbu karang. Lalu yang terakhir ada tulisan Survivor P. Weh yang terbuat dari beberapa balok beton yang tertidur di dasar lautnya.

Selain itu, ikan-ikan yang ada di bagian depan pulau rubiah ini kayaknya lebih banyak dari pada yang di belakang. Bedanya, kalo di belakang tadi ikannya lebih besar-besar dan kadang-kadang ada ikan yang bentuknya aneh-aneh. Sementara di bagian depan ini ikannya banyak yang lebih kecil tapi jumlahnya sangat banyak dan lebih bervariasi.

Tak terasa udah hampir maghrib, aku dan beberapa teman yang tadi yang snorkeling duluan akhirnya istirahat dan memesan sate gurita. Harganya 25ribu 1 porsi. Sementara kami makan yang lain gantian snorkeling. Setelah itu kami menelepon boat sewaan kami untuk menjemput kami dan akhirnya kembali ke tempat penyewaan alat untuk mengembalikan alat snorkeling dan membayar tagihannya.

Ini Sate Gurita, dengan nasi harganya 25 ribu.




Kami kembali ke penginapan. Di depan penginapan kami kebetulan langsung berhadapan dengan pantai. Jadi kami main-main air dulu baru kemudian mandi bersih dan dandan ganteng untuk makan malam.

Makan malam bisa didapat dengan gampang di daerah Iboih, ada warung makan dimana-mana. Namun, sangking banyaknya tempat makan, akhirnya kami mencoba berjalan kaki menyusuri jalan setapak pinggir pantai Iboih yang agak naik-turun sampai ujung jauh hanya demi mendapatkan lokasi makan terbaik dan termurah.

Tempat makannya ada bermacam-macam, mulai dari warung kecil yang isinya penduduk lokal sampai ada juga yang isinya bule semua. Warung pertama yang kami coba masuki berada di paling ujung jalan setapak, disana kami melihat pelanggannya adalah bule semua dan hampir tidak ada meja kosong. Hanya ada 1 meja kosong yang kursinya kurang dari 5, sementara kami ada 7 orang. Kami pun mulai menarik kursi-kursi dari meja lain untuk duduk di meja tersebut. Kemudia pelayannya datang, seorang abang-abang yang kulitnya ala-ala anak pantai. Nah, saat kami mau pesan nasi, ternyata kata si abang udah habis semua, yang tinggal hanyalah nasi. Tapi anehnya bule-bule yang lain kammi lihat banyak yang lagi makan nasi goreng. Entahlah, antara memang kebetulan sedang habis nasinya atau mungkin memang restoran itu ngga mau nerima kami yang bukan bule untuk makan disitu.

Kemudian akhirnya kami menemukan satu tempat kecil yang pelanggannya cuma sepasang muda-mudi. Karena perut sudah terlalu lapar, akhirnya kami memilih makan disitu dan memesan nasi goreng dan nasi ayam penyet. Nasi goreng dan ayam penyet harganya sama, sekitar 16ribuan. Aku akui nasinya pedas. Pedas kali.

Setelah mengucurkan keringat hasil makan pedas, akhirnya kami balik ke penginapan.
Kami duduk-duduk di cafe dekat penginapan. Di sana ada sebuah meja, kami pun duduk melingkar. Suasana sepi dan dingin, kehangatan hanya didapat dari segelas milo panas dan coffeemix panas.
Tiba-tiba si Agung ngajak main Truth or Dare. Tapi ide itu langsung di tolak karena terlalu mainstream dan takut aib-aib penuh dosa mulai terbuka. Akhirnya kami membuat permainan sejenis yang baru, yaitu Yes or No Question. Jadi sama kayak Truth or Dare, kami memutar hp kecil yang ada senternya di tengah meja, dan bagi yang kena harus menjawab pertanyaan dengan jawaban Ya atau Tidak saja.

Walaupun cuma Ya atau Tidak, tapi alhasil banyak rahasia yang terungkap. hahaha.

Setelah itu kami kembali ke penginapan dan tidur.
Tepar, satu kamar isi 7 orang

***
Ini tepat didepan penginapan kami
Ini kami di depan penginapan

Ini juga tepat di depan penginapan kami, itu pulau rubiah.

Di pulai rubiah bagian belakang

Di bagian belakang pulau rubiah

Bagian belakang pulau rubiah

Bagian belakang pulau rubiah

kepo main air di depan penginapan

Besok paginya, kami bangun pagi lalu hanya cuci muka dan gosok gigi lalu langsung berangkat ke Air Terjun Pria Laot. Jaraknya ngga terlalu jauh dari Iboih, cukup pergi keluar dari Iboih lalu naik turun pebukitan dan kemudian sampailah ke lorong untuk menuju air terjun.

Masuk ke lorong yang jalannya sempit itu kemudian kita harus parkir di sebuah rumah yang memang menyediakan lahan untuk parkiran pengunjung. Kita tidak bisa membawa motor sampai air terjunnya, cukup sampai di tempat parkir itu karena memang udah ga ada lagi jalan besarnya, yang tinggal hanyalah jalan setapak.

Dari lokasi parkir itu kami jalan kaki mengikuti jalan setapak yang mengikuti aliran sungai dan tidak lama kemudian sampailah kami di air terjunnya. Semalam saat kami tertidur lelap hujan mengguyur daerah pulau ini, jadi efeknya terhadap air terjun ini adalah airnya berubah menjadi keruh.
Awalnya kami kecewa karena memang rencana mau mandi-mandi di sini, namun setelah melihat warna air yang bahkan tak keliatan dasar kolamnya kami jadi agak kurang semangat.

Tapi udah capek-capek jalan kesini, masa ga mandi? Akhirnya aku dan TM nyebur duluan untuk ngetes kedalaman kolamnya. Ada beberapa spot yang dalam, dan ada juga beberapa spot yang ngga terlalu dalam. Setelah mengetahui kondisi kedalaman kolam, akhirnya Ponda, Kepo dan Agung menyusul nyebur juga. Tinggallah Ewe dan bocil yang memutuskan ngga mandi.




Air terjun pria laot sabang
Setelah mandi di Air Terjun Pria Laot tersebut, lalu kemudian kami kembali ke penginapan untuk mandi bersih dan packing karena mau pindah ke penginapan di daerah lain. Setelah mandi dan packing, kami tidak langsung membawa serta barang-barang kami. Kami menitipkan barang di penginapan tersebut dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Tugu KM 0 Indonesia yang jaraknya cuma 30 KM dari Iboih.

Di KM 0 tersebut kami ketemu dengan babi hutan yang emang udah terkenal jinak berkeliaran di sekitar tugu. Di sana kami juga menyantap mie rebus dan berfoto-foto.





Berhubung Tugunya lagi di renovasi jadi kami cuma bisa foto-foto di tulisan kilometer 0 ini aja.


Setelah puas berfoto-foto kami kemudian kembali ke penginapan di Iboih utk mengambil barang lalu melanjutkan perjalanan ke Sumur Tiga.

***

Daerah Sumur Tiga termasuk pantai yang lumayan nge-tren di Sabang, lokasinya lumayan dekat kota dan pemandangan yang ditawarkan luar biasa indah. Berhubung kami belum pesan penginapan jadi kami harus cari-cari penginapan dulu. Cari di Casanova, eh penuh. Cari di Fredie's juga penuh. Akhirnya tanpat sengaja saat sedang di depan Casanova kami melihat ada sebuah penginapan di sebelahnya. Bukan tepat di sebelahnya, tapi selang satu bangunan di sebelah kirinya.

Agung, Ewe, dan TM masuk ke sana untuk melihat apakah ada kamar. Pas mereka masuk, kok sepi, ga ada orang satu pun. Cuma ada nomor hp yang ditinggalkan di bagian resepsionisnya. Kami pun menelepon nomor tersebut dan rupanya ada Bungalow kosong yang harganya juga murah dan pemiliknya bakal ke lokasi kami beberapa saat lagi kalo kami jadi.

TM orangnya agak penakut, dan suasana penginapan itu juga lumayan seram karena kurang terurus. Tiba-tiba TM keluar dari penginapan tak berpenghuni itu dan mengajakku untuk mencari tempat lain. Kami jalan sampai daerah yang namanya Ujong Karang, disitu ada penginapa bungalow juga tapi sayangnya mahal untuk kantong kami. Alhasil TM harus mengalah dan menerima keputusan untuk menginap di penginapan yang menyeramkan tadi.

***

Jam 5 an si pemilik datang ke penginapan untuk membuka kunci bungalow, dia juga harus menyapu lagi karena memang sangat berdebu. Jadi kata si Kakak yang namanya kak Tia ini tempat ini awalnya adalah rumah, kemudian jadi penginapan lalu suatu ketika saat tempat ini masih diurus pemilik lama pernah ada pasangan mesum yang kejaring razia disini, akhirnya namanya jadi jelek dan ngga laku lagi. Makanya jadi sepi dan tidak terurus begini.

Tapi kak Tia ini luar biasa, kami nanyain ke dia dimana tempat makan Ikan bakar yang recomended disini. Katanya dia, ada banyak tapi pasti harganya di kasi mahal sama yang jual. Kak Tia nyaranin kami untuk bakar-bakar ikan sendiri aja disini. Kami pun suka dengan ide itu dan akhirnya kak Tia membantu mengurus beli bumbu dan peralatan bakar-bakar dan menghubungi tempat ikan langganannya.

Sementara kak Tia mengurus itu semua, kami bertujuh jalan-jalan sore ke pantai sumur tiga. ralat. jalan-jalan hampir maghrib.

Pantai Sumur Tiga

Eh ada pasangan bule





Saat magrib tiba, kak Tia menelpon Agung, jadi Agung dan Bocil harus ikut kak Tia untuk membeli ikannya langsung ke tempat ikan yang baru sampai. Jadi ikannya masih fresh from the ocean.


Magrib tiba dan kami kembali ke penginapan. Selagi Agung dan Bocil beli ikan, lalu aku dan TM jalan ke kota untuk beli minyak tanah untuk bakar-bakar, juga beli Abothyl untuk Ewe yang bibirnya tersulut api rokok, kasian dia kena accident di tengah liburan.

Pertama kami mampir dulu di atm terdekat di kota karena TM perlu duit, lalu kami mulai nyari Abothyl yang ternyata susah dicari kalo mau ukuran yang kecil. Selagi nyari-nyari itu, aku dan TM sempat mampir di Tugu Sabang Marauke.
Di tugu sabang merauke.
Lalu kami mampir di swalayan untuk ceri abothyl kecil dan juga ga dapat. Beberapa toko obat sudah dikunjungi juga tidak ada yang kecil. Saat di swalayan itu, kami sempat beli Es Krim walls baru yang bisa di kupas. Saat sedang bayar di kasir dan nanya abothyl itu, tiba-tiba ada salah satu pembeli yang merupakan warga sekitar yang ngasi tau kalo di belakang toko ini ada apotik, kebetulan lokasi toko ada di dekat Puskesmas. Kami pun ke sana dan akhirnya menemukan Abothyl yang tepat.

Satu lagi yang belum ada, yaitu minyak tanah. Kami melihat ada sebuah warung, kami nanya disitu ternyata tidak ada dijual, dan beberapa warung yang kami hampiri juga tidak ada. Lalu di sebuah simpang ada warung kelontong yang jual bensing, kami nanya disitu sama ibu yang punya warung. Katanya ngga ada dan kami hendak pergi. Lalu si ibu tiba-tiba berbaik hati menawarkan minyak tanah yang ia punya yang sebenarnya untuk lampu panyotnya. Wah baik sekali warga sabang ini. Kami dapat minyak tanah gratis. Gratis kan? Oh ternyata tidak, kami salah paham, si ibu minta bayaran. Yasudahlah kami pun dengan hati ikhlas membayarnya.

Setelah itu kami kembali ke penginapan dan teryata hanya da Ewe, Agung, dan Bocil. Ikan sudah dibersihkan mereka. Kepo dan Ponda ngga lama kemudian tiba di penginapan dengan sebungkus garam yang mereka beli. Kata mereka, mereka kena teguran sama yang jual garam di warung. Katanya pantang beli garam malam-malam karena berhubungan dengan orang meninggal. Sekejap suasana penginapan yang cuma ada kami ber7 ini (kak Tia udah pulang) semakin horor.

Kami pun mulai menyiapkan bakar-bakar dengan menggunakan batok kelapa yang sudah kami beli juga. Supaya suasana horor hilang, kami mulai ribut-ribut sendiri dan aku asik dengan kamera untuk foto-foto.







Nah itu dia foto-fotonya. Tunggu, itu foto terakhir coba di perhatiin, yang nampak pake baju kensi itu adalah Agung. Coba perhatiin baik-baik apa itu yang dibelakang?
Jadi kami di penginapan itu betul-betul cuma bertujuh. Ga ada penghuni lain.

Saat sedang bakar-bakar aku asik foto-foto dengan kamera poketku itu. Kemudian karena capek, kusimpan kamera di kamar. Si ponda yang lagi duduk di kamar iseng liat-liat foto di kamera. Dan ia menemuka ini. Ponda langsung ngasi tau Bocil dan bocil langsung menghampiri kami.

"Want to see something?"

Dia kemudian nge-zoom sampe nampak sosok itu.

Kami yang lagi bakar-bakar langsung terdiam. Pucat.

TM teduduk begetar.


Suasana horor kembali datang dan semakin menjadi jadi karena si Agung cerita yang aneh-aneh tentang pengalaman spiritual temannya di malang.

Tapi tenang, kami tetap melanjutkan kegiatan bakar-bakar mewah kami dan kemudian menyantap dengan puas hasil bakaran kami. Dan setelah itu kami pun tidur.


***

Besok paginya kami bangun dan tanpa mandi ataupun sabun muka dan bahkan tidak sikat gigi kami pergi ke restoran hotel Freddie's Santai Sumur Tiga. Resto ini terkenal dengan menunya yang enak-enak terutama pizzanya,
Karena kami sampai di lokasi itu pukul setengah 10 dan resto baru buka jam 10, jadi beberapa dari kami memutuskan untuk main-main air dulu di pantainya. Ya, restoran hotel ini tepat berhadapan langsung dengan pantai sumur tiga.






Ini si Agung lagi pose ala Patrick Star



Nah setelah melahap sarapan kami di sana kamudian kami kembali ke penginapan dan tiba-tiba mendapat kabar kalo kapal dari Banda Aceh udah mau sampai Pelabuhan. Kabar ini datang dari Kak Tia yang kebetulan juga ada barang kirimannya yang berangkat kapal itu.

Kami langsung buru-buru packing dan cuma Bocil yang mandi dan Kepo buang air besar. Tiba-tiba air mati dan tinggal sedikit lagi yang ada di dalam bak. Otomatis kami semua yang lain harus tidak mandi dan hanya sikat gigi. Aku orang ke 2 terakhir yang menggunakan kamar mandi, dan air habis. Terpaksa kami mengangkat air galon yang semalam kami beli untuk minum untuk air kamar mandi.
Bahkan TM terpaksa pipis tanpa siram lantai lagi, aku bilang biar sekalian aku yang siram aja nanti.

Akhirnya kami semua siap, ponda yang terakhir pake kamar mandi. Kami pun membayar penginapan bungalow kami dengan sangatlah murah dan kemudian menggunakan jalan paling cepat ke pelabuhan, yaitu lewat kawasan pantai Anoi Itam.

Kami tiba di pelabuhan saat orang sedang shalat jumat, tapi suasana pelabuhan tetap ramai bahkan warung makan didekatnya juga masih buka. Ternyata kapal baru akan berangkat setelah shalat jumat selesai, jadi kami makan dulu di warung makan itu. Warung makan tempat pertama kali kami makan 3 hari yang lalu.

Setelah makan kami akhirnya naik ke kapal dan berangkat pulang ke Banda Aceh. Sampai di banda Aceh kami lanjut ngopi dulu di dekat pelabuhan sebelum akhirnya berpisah.


Beberapa hari kemudian, aku kembali penasaran dengan foto penampakan tadi, kemudian aku tingkatkan brighness nya dan dapatlah kejelasan foto seperti ini:


Ternyata itu adalah motor yang kami parkir di situ. hahaha

Nah sekian cerita perjalanan kami di Sabang. Kenapa judulnya "7 Manusia Harimau di Sabang"?
Karena kami ada 7 orang, dan kami liburan di sabang. Sekian.

Comments

  1. kirain legenda gitu isinya, tapi seru banget kayanya perjalanan bareng kaya gitu.. jadi pengen liburan bareng temen..

    ReplyDelete
  2. Wohhhhh
    What a super fun adventure and trip ya ki

    Btw ngakak juga mengetahui fakta dibalik foto penampakannya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk seandainya foto itu ga aku terangin, dia akan terus menjadi foto penampakan asli wkwk

      Delete
  3. bagus sekali artikel yang di share
    memrik dan penuh wawasan terimakasih

    ReplyDelete
  4. nice trip .. di tunggu review tips tips berikutnya. salam traveling liburanhemat_murah

    ReplyDelete
  5. bagus sekali info nya sangat bermanfaat
    dan mudah di mengerti

    ReplyDelete
  6. saya sangat suka dengan info nya gan terimakasih
    terus berkarya gan

    ReplyDelete
  7. sangat suka sekali info nya
    saya tunggu info lain nya gan

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentari



Pilih pada pilihan profil:

1. Name/Url jika tidak memiliki akun blogger.

2. Anonymous jika ingin memberi komentar dengan merahasiakan identitas.

3. Google Account jika kamu juga punya blog.

Popular posts from this blog

Pergerakan Konvergen Divergen dan Transform (Tugas Tektonofisik)

Pergerakan Konvergen Divergen dan Transform
M. Rizki Mufty, Aufaz Zihni, M. Haris Maulana Putra, Muhammad Jehan
Department of Mining Engineering, Faculty of Engineering, Syiah Kuala University, Banda Aceh
Abstract The earth on which we live is a planet that has a history of dynamic formation and has lasted for approximately 4.56 billion years with the discovery of the oldest rocks 4.3 billion years old. For billions of years, the Earth continues to change pretty extreme to this day and finally we can live comfortably on top along with other living beings. Even today, the earth still continues to change. Changes caused by various factors, both factors conducted by the earth itself and caused by the activities of living organisms, or as a result of the things that come from outside the Earth. One factor that is carried by the earth itself is due to tectonic plate movement (movement of divergent, convergent and transform).

Tes wawancara di SMA idaman. Plus tips.

Tanggal 25 Mei yang lalu, aku ikutin tes wawancara untuk penerimaan siswa baru di SMA 3.
Ya Allah.... Ngantrinya lama.... harus nunggu di panggil dari jam 8. Sementara aku itu siswa ke 46 di ruang wawancara itu.
Akhirnya aku dipanggil juga pas udah jam 10 lewat.

"M. Rizki Mufty, ada?" si Ibu Yang Mewawancarai (IYM) manggil ke arah kami semua yang ngantri. "Saya bu!" aku langsung duduk di kursi panas. Panas karena udah 40an orang duduk disini.

IYM : namanya M. Rifki Mufty?
Aku : M. Rizki Mufty bu... bukan Rifki...
IYM : oh.. yaya. Jadi, kamu dari SMP 1? (si IYM ngelirik ke simbol baju smp ku)
Aku : Iya bu...
IYM : Kenapa kamu memilih ke SMA ini? Kenapa bukan di SMA 1 yang ada di sebelah SMP kamu?


Tips : Kalo di tanya alasan memilih sekolah ini, jawablah dengan baik dan  pujilah sekolah tersebut dengan pujian yang masuk akal. Jangan jawab dengan jawaban yang aneh dan tak di mengerti, seperti : "Karena didekat sekolah ini ada yang menjual Pisang Goreng!".
Aku…

Contoh Penyimpangan sosial dalam masyarakat

Bulan puasa ini aku dapat tugas nyari Contoh-contoh penyimpangan sosial dalam masyarakat. Ini tugas IPS. karena Pr nya udah selese, maka di posting sini ajalah... kali aja berguna... dari pada disimpan di laptop selamanya, kan gak bakal betelor juga...

SELAMAT mngerjakan tugas!!!!


___________________________________________________________

Contoh Penyimpangan Sosial dalam Masyarakat

1. Penyimpangan Individual (Individual Deviation)

Penyimpangan individual merupakan penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang yang berupa pelanggaran terhadap norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. Penyimpangan ini disebabkan oleh kelainan jiwa seseorang atau karena perilaku yang jahat/tindak kriminalitas. Penyimpangan yang bersifat individual sesuai dengan kadar penyimpangannya dapat dibagi menjadi beberapa hal, antara lain:

a. Tidak patuh nasihat orang tua agar mengubah pendirian yang kurang baik, penyimpangannya disebut pembandel.

b. Tidak taat kepada peringatan orang-orang yang berwenang di …