Posts

Zatalini Tales (2012)

Dahulu kala ada seorang anak bernama Zatalini, ia tinggal berdua dengan ibunya—filza, disebuah gubuk tua. Zata adalah anak yang ceroboh dan sering galau, padahal ia jomblo. Suatu hari Filza, ibunya yang cerewet, menyuruh Zata pergi ke hutan untuk memetik pisang. Diperjalanannya ke hutan, ia berjumpa dengan seorang cenayang bernama Firia. Firia mengatakan kepada Zata bahwa ia akan mendapat satu kesialan dan satu keberuntungan jika mengambil pisang yang tergantung paling tinggi. Di sepanjang perjalanan, Zata terus memikirkan kata-kata Firia. Sampailah ia di sebuah sungai, di sana ia melihat seorang nenek sedang mencuci gigi palsu berbehelnya. Nenek itu bernama Andalia, ia terlihat sangat kesulitan saat menggosok behelnya. Zata yang sok baik lalu menawarkan diri untuk menolongnya, ia merebut gigi palsu tersebut dengan paksa. Lalu, saat ia tengah merebut gigi berbehel tersebut, muncullah cucu nenek itu dari semak-semak. Melihat perbutan itu, sang cucu panik lalu berteriak minta tolong. San

Bubur, oh, Bubur

Image
Halo! Sekian lama ngga berhubungan dengan dunia per-blogger-an, beberapa minggu lalu akhirnya ada kejadian menarik yang bikin aku kembali menyentuh blogger dot com. Malam itu sekitar pukul 19.30an, teman SMP ku yang ratusan purnama lamanya udah ga pernah ketemu lagi tiba-tiba nelpon pakai app Wassap. "Halo, assalamualaikum, " sapaku. "Halo h , assalamualaikum, Ki!"  Namanya Liza, eh, Lidza, pakai 'd'. Sedikit tentang Lidza, cewe asli Banda Aceh dan sejak kuliah sampai sekarang beraktivitas di Jakarta ini adalah salah satu teman terdekatku di masa SMP. Sejak masuk SMA di tahun 2011, hubungan kami kian merenggang seiring waktu dan pilihan sekolah yang beda. Akhirnya hubungan kami hanya sebatas saling nge-like foto Instagram (yang kyknya sekarang tinggal aku aja yang masih rajin ngelike) dan nge-seen Insta Story. Indahnya dunia per-medsos-an, walaupun minim interaksi, kita tetap update tentang kurang-lebih apa kabar dan dimana dia sekarang. "Ki, sorry  nih

Baksos di Pulau Aceh

Image
Tanggal 25 Maret 2016 lalu (yak, udah sataun lebih), aku ikutan jadi panitia di acara Pekan Bakti Mahasiswa Teknik V (PBMT V). Acara ini adalah salah satu program kerja BEM FT Unsyiah, dimana ini adalah kali ke 5 dilaksanakan. Acara bakti sosial ini kami lakuin di Desa Rinon di Pulo Aceh, Aceh Besar. Tau dimana? Silahkan buka peta Indonesia, liat di paaaaaliiiiing ujung sumatera, selain sabang ada pulau terluar juga kan? Nah itu namanya Pulau Nasi dan Pulau Breuh. Nah, di Pulau Breuh (yang paling terluar) itulah desa Rinon berada. Nama pulaunya adalah Pulau Breuh, tapi nama kecamatannya adalah Pulo Aceh. Jadi PBMT ini diadakan di Desa Rinon, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar. Tuh yang ujung, pulau breuh. Sebelumnya jurusan Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTP) Unsyiah udah beberapa kali ke desa itu untuk bakti sosial dan juga sekaligus kuliah lapangan. Nah, kali ini giliran BEM FT yang bikin baksos di tempat yang sama. Bedanya? Kalau HMTP dulu cuma bakti sosial di SD

Nenek, aku menyesal.

Malam itu aku punya rencana lain. Hampir menjadi kebiasaan, tiap malam kami habiskan dengan penuh kesia-siaan. Tak ada yang tahu. Tak ada yang menduga. Malam itu akan menjadi malam yang akan disesali 2 tahun kemudian. Malam itu setelah berbuka puasa, Nenek meminta tolong. Hal yang sangat sederhana. Tolong antarkan nenek ke mesjid untuk tarawih. Aku tak dapat menolak permintaan nenek. Tapi tampaknya gelagatku tak bisa menyembunyikannya. Aku punya rencana untuk nenghabiskan waktu di warkop dengan teman-teman. Nenek tahu itu. Ibuku juga tahu. Tak ada larangan akan hal itu. Kuputuskan untuk mengantar nenek ke mesjid. Tapi ada yang berbeda. Mengapa begitu diam. Nenek tak banyak bicara. Sampai akhirnya di jalan nenek akhirnya bersuara, "Tahun depan belum tentu nenek akan berjumpa Ramadhan lagi. Nenek sudah tua", suara nenek agak bergetar. Nenek menahan air matanya. Aku hanya diam sambil mengantar. Tak tau harus menjawab apa. Rasa tak enak sudah pasti muncul di hatiku. Apa mun

LAGP: Labschool Alumni Gathering Party

Image
Tahun lalu aku ikut dalam kepanitian beberapa acara. Salah satunya adalah LAGP; Labschool Alumni Gathering Party. LAGP ini adalah acara reuni akbar SMA Labschool Unsyiah yang pertama, makanya kami selaku panitia secara *uhuk* asal milih tema “Where everything begins” untuk acara ini. Nama acaranya juga tau-tau aja dari yang awalnya cuma nama untuk sementara, eh akhirnya malah jadi nama tetap untuk dipake kedepannya. Lah? Aku tahun lalu kan udah jadi alumni, kok malah jadi panitia lagi? Pada umumnya acara reuni akbar sekolah pasti diadain sama pihak sekolah, biasanya OSIS. Tapi berhubung ini adalah pertama kalinya dibuat di sekolah kami, akhirnya kami para alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni Labschool (waktu itu alumninya baru 6 angkatan) mutusin untuk susun kepanitian sendiri dan nanti dari OSIS akan kerja di beberapa hari sebelum dan pada hari H nya saja. Ini logo acaranya~ Di acara LAGP kemarin, aku dikasih kehormatan buat jadi ketua Tim Kreatif alias Dekorasi. Kebe

Bakar-bakar tambang!

Image
Saya dimana? Oh yg fotoin. #latepost Tanggal 26 Desember terjadi Tsunami. ... Eh, bukan! aku bukan mau cerita tentang Tsunami. Ulang balik ya... haha --' *krikkrik *garing *ditendang Tanggal 26 Desember tahun lalu *biar kesannya udah lama*  untuk pertama kalinya anak-anak jurusanku bikin acara bakar-bakar ayam. Wuuuutttt?? udah semester 3 belon pernah bikin bakar ayammm?? kalian itu herbivora!? Sebenarnya kami udah pernah bikin sekali waktu berkemah di Lhok Mata Ie, tapi ini pertama kalinya bikin yang ala rumahan jadi beda lah dengan bakar-bakar waktu kemah, getoh. Sebenarnya kami udah punya rencana untuk bakar-bakar ini dari jaman NOAH masih pake nama Perterpan  semester 2. Tapi kebiasaan anak-anak jurusanku, sukanya wacana aja. Rencana bikin jaket jeans, jadi wacana. Rencana sering-sering bikin kegiatan naik gunung (biar lebih kerasa kayak anak tambang yang sering main sama alam *azigidi*), jadi wacana. Semua-semua jadi wacana. Jadi aku yang udah ngga t