Pergerakan Lempeng Tektonik : Orogenesa (Tugas Tektonofisik)

Pergerakan Lempeng Tektonik : Orogenesa
Ari Hardiansyah, Firman Isnan, Muhammad Fadhil dan M. Ilman Rasyad
Department of Mining Engineering, Faculty of Engineering, Syiah Kuala University, Banda Aceh

Abstrak             

Orogenesis, the process of mountain building, occurs when two tectonic plates collide – either forcing material upwards to form mountain belts such as the Alps or Himalayas or causing one plate to be subducted below the other, resulting in volcanic mountain chains such as the Andes. Integrating the approaches of structural geology and metamorphism, this book provides an up-to-date overview of orogenic research and an introduction to the physico-chemical properties of mountain belts. Global examples are explored, the interactioning roles of temperature and deformation in the orogenic process are reviewed, and important new concepts such as channel flow are explained. This book provides a valuable introduction to this fast-moving field for advanced undergraduate and graduate students of structural geology, plate tectonics and geodynamics, and will also provide a vital overview of research for academics and researchers working in related fields including petrology geochemistry and sedimentology.


Pendahuluan
Secara bahasa Orogenesa berasal dari bahasa latin yaitu kata Oros yang berarti pegunungan dan Gennao yang berarti pembentuk, sehingga secara singkat Orogenesa dapat diartikan sebagai gerak pembentuk pegunungan. Orogenesa adalah pergerakan lempeng tektonik yang berlangsung secara cepat dan meliputi wilayah yang sempit yang terjadi pada permukaan bumi baik secara horizontal maupun secara vertikal sehingga Gerakan Orogenesa dapat menimbulkan terjadinya patahan dan lipatan.

Gerakan Orogenesa
Gerak orogenesa adalah gerakan pada lapisan kulit bumi secara horizontal maupun vertikal akibat pengangkatan dan penurunan permukaan bumi yang terjadi sangat cepat sekali serta meliputi wilayah yang sempit. Gerak orogenesa terjadi pada proses terbentuknya pegunungan, lipatan, dan patahan.

Lipatan adalah gerak tekanan horizontal yang menyebabkan kulit bumi yang elastis mengalami pengerutan, pelipatan dan menghasilkan relief muka baru berbentuk pegunungan. Bagian lipatan yang terlipat ke atas disebut punggung lipatan (antiklinal) sedangkan yang melipat ke bawah disebut dengan lembah lipatan (sinklinal). Sementara bidang yang dapat ditarik lurus dari anticlinal dan sinklinal disebut dengan bidang aksial.


Adapaun macam – macam lipatan adalah sebagai berikut :
  1. Lipatan tegak (symmetrical folds), terjadi karena pengaruh tenaga horizontal sama atau tenaga radial sama dengan tenaga tangensial.
  2. Lipatan miring (asymmetrical fold), terjadi karena arah tenaga horizontal tidak sama.
  3. Lipatan menutup (recumbent folds), terjadi Karena tenaga tangensial saja yang bekerja.
  4. Lipatan rebah (overturned folds), terjadi karena arah tenaga horizontal dari satu arah.
  5. Sesar sungkup (overthrust), terjadi karena adanya pergerakan pada sepanjang kerak bumi.



Gambar 1. Bentuk – bentuk lipatan
(Carlson, Diane H. Dkk. 2011. Physical Geology Ninth Edition. Penerbit: McGraw-Hill)

Patahan merupakan gerakan tekanan horizontal dan vertical yang menyebabkan lapisan kulit bumi yang rapuh menjadi retak atau patah. Hal ini terjadi karena tekanan yang kuat tersebut melampaui titik patah batuan dan berlangsung dnegan sangat cepat. tidak hanya retakan, batuan pun dapat terpisah.

Jenis–jenis dari patahan adalah sebagai berikut :
  1. Tanah naik (horst) , yaitu dataran yang terletak lebih tinggi dari daerah sekelilingnya, akibat dataran di sekelilingnya patah. Horst terjadi akibat gerak tektogenesa horizontal memusat, yaitu tekanan dari dua arah atau lebih yang menimbulkan kerak bumi terdorong naik.
  2. Tanah turun (graben/slenk) , yaitu kenampakan dataran yang letaknya lebih rendah dari daerah di sekelilingnya, akibat dataran di sekelilingnya patah. Graben terjadi karena tarikan dari dua arah yang mengakibatkan kerak bumi turun.
  3. Sesar, yaitu patahan yang diakibatkan oleh gerak horizontal yang tidak frontal dan hanya sebagian saja yang bergeser. Sesar ini dibagi menjadi dua, yaitu dekstral dan sinistral. Dekstral, yaitu jika kita berdiri di depan potongan sesar di depan kita bergeser ke kanan. Sinistral, yaitu jika kita berdiri di depan potongan sesar di depan kita bergeser ke kiri.
  4. Blok mountain, yaitu kumpulan pegunungan yang terdiri atas beberapa patahan. Blok mountain terjadi akibat tenaga endogen yang berbentuk retakan-retakan di suatu daerah, ada yang naikdan ada yang turun dan ada pula yang berbentuk miring sehingga terbentuk komplek pegunungan patahan yang terdiri atas balok-balok lithosfera
Bentuk muka bumi dari bentuk patahan dan lipatan di antaranya sebagai berikut.
·         Pegunungan
Pegunungan adalah kumpulan dari gunung-gunung yang membentuk permukaan bumi seolah-olah bergelombang dengan lembah dan lekukan di antara gunung-gunung tersebut. Contoh dua deretan pegunungan di Indonesia, yaitu
  1. Sirkum Pasifik, yang melalui Sulawesi, Maluku, Papua, dan Halmahera.
  2. Sirkum Mediterania :
§  Busur dalam (vulkanis) yang melalui Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Solor, Alor, Weter, Damar, Nila, Seua, Manuk, Kepulauan Banda, dan berakhir di Pulau Ambon.
§  Busur luar (non vulkanis), yang melalui P. Simelue, P. Nias, P. Batu, P. Mentawai, Enggano, tenggelam disebelah selatan P. Jawa, Sawu Roti, Timor, Kep. Leti, Sermata, Kep. Barbar, Kep. Tanibar, Kep. Watubela, Kep. Laut Seram, Manipa, Baru, dan pulau-pulau kecil sekitarnya.

§  Dataran tinggi
Dataran tinggi adalah daerah datar yang berada pada ketinggian di atas 700 m. Dataran ini bisa terbentuk dari daratan rendah yang mengalami pengangkatan dengan bentuk datar. Meskipun saat ini pada umumnya dataran tinggi sudah mengalami erosi, namun sisa-sisa erosi yang merupakan puncak-puncak tertinggi mempunyai ketinggian yang sama. Misalnya, Dataran Tinggi Bandung di Jawa Barat, Dataran Tinggi Karo di Sumatera Utara, Dataran Tinggi Dekan di India, Dataran Tinggi Yura di Perancis, dan Dataran Tinggi Gayo di Aceh.

§  Plato atau plateau
Bentuk permukaan bumi ini merupakan dataran tinggi dengan bagian atas relatif rata dan telah mengalami erosi. Misalnya, Plato Dieng di Jawa Tengah, dan Plato Madi di Kalimantan.

§  Depresi
Depresi adalah bagian permukaan bumi yang mengalami penurunan. Bentuk depresi yang memanjang disebut slenk, sedangkan yang membulat disebut basin. Misalnya, Depresi Jawa Tengah dan Lembah Semangka.

§  Palung laut
Palung laut adalah bagian luar bumi yang terdapat di dasar laut dengan kedalaman lebih dari 5.000 meter. Bentuknya memanjang dan sempit sebagai akibat dari proses penenggelaman yang terusmenerus. Misalnya, Palung Laut Mindanau dan Palung Laut Kai.

§  Lubuk laut
Proses pembentukan lubuk laut sama dengan palung laut, hanya berbeda pada bentuknya saja, yaitu yang membulat dengan kedalaman juga lebih dari 5.000 meter. Misalnya, Lubuk Laut Sulu dan Lubuk Laut Banda.

§  Punggung laut
Bentuk dari punggung laut dapat digambarkan seperti bukit di dasar laut. Sebagian dari punggung laut ada juga yang muncul di atas permukaan air laut. Misalnya, Punv cggung Laut Sibolga dan Punggung Laut Snelius.

§  Ambang laut
Ambang laut adalah pembatas pada dasar laut yang memisahkan dua laut dalam. Misalnya, Ambang Laut Sulu dan Selat Gilbatar.

§  Shelf
                Shelf  adalah bagian laut yang dalamnya kurang dari 200 meter. Misalnya, Shelf Laut Jawa dan Laut Arafuru.

Kesimpulan
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Gerakan Orogenesa merupakan pergerakan lempeng tektonik yang cepat yang berlangsung pada wilayah yang sempit yang terjadi pada permukaan bumi baik secara horizontal maupun secara vertikal menyebabkan terjadinya patahan dan lipatan. Bentuk muka bumi yang diakibatkan oleh adanya patahan dan lipatan antara lain :
·         Pegunungan
·         Dataran tinggi
·         Plato
·         Depresi
·         Shelf
·         Palung laut
·         Lubuk laut
·         Punggung laut
·         Ambang laut

Daftar Pustaka

1. Turcotte. Donald L, Schubert. Gerald. Geodynamics Application of Continuum Physics to Geological Problems. New York. John Wiley & Sons, Inc.
2. Carlson, Diane H. Dkk. 2011. Physical Geology, Ninth Edition. New York: McGraw-Hill.
3. USGS. 2014. Understanding Plate Motion. 14 Desember 2015. http://pubs.usgs.gov/



Comments

  1. thanks infonya menarik dan bermanfaat
    serta menambah wawasan terus posting info lainnya
    sukses terus gan

    ReplyDelete
  2. bagus sekali info yang di sampaikan
    oleh agan terimakasih

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentari



Pilih pada pilihan profil:

1. Name/Url jika tidak memiliki akun blogger.

2. Anonymous jika ingin memberi komentar dengan merahasiakan identitas.

3. Google Account jika kamu juga punya blog.

Popular Posts